Monday, October 20, 2008

Mereka Yang Terabaikan

Cerita 1 :

Hari itu pulsaku habis hanya dalam waktu tak sampai 2 hari. Tiba-tiba adek bungsuku yang sekarang duduk di kelas 3 Aliyah menelfon, bercerita banyak tentang perasaannya. Diakhir ceritanya dia bilang, ‘Ga nelpon mama kah?’ Aku jawab bahwa pulsaku habis dan ga cukup lagi buat nelfon. Ga disangka dia bilang ‘ Cepatnya juga habis, pasti nelponin orang terus ngurus organisasi, mama kangen tu nah nunggu-nunggu di telfon’ Hari itu Aku sedih dan tertohok!


Cerita 2 :

Pagi-pagi sekali aku sudah siap-siap, agenda pertama hari itu adalah ke Banjarmasin, merampungkan beberapa urusan. Melihat aku yang tergesa-gesa menyetrika baju dan lain sebagainya, salah satu adek baru di asrama bilang, ‘ k ifah sibukkah hari ini? Pasti pulangnya malam lagi.. Yah.. kada ditraktir makan siang dong …. (namanya)’ mendengar kalimat yang sebenarnya bercanda itu aku jadi banyak introspeksi, benar akhir-akhir ini aku sangat jarang bersama mereka. Aku lebih sering makan diluar atau justru lupa makan. Hhh…


Cerita 3 :

Akhir-akhir ini aku sibuk sekali, pasca pulkam banyak agenda yang harus dilaksanakan. Maklumlah karena saat libur kami vakum dari agenda kecuali berfikir. Pagi itu aku berangkat pagi sekali dari asrama, ada yang harus dikerjakan, tapi ternyata ada sesuatu yang terlupakan sehingga aku harus kembali lagi keasrama untuk mengambilnya. Saat itu adekku sedang berada dikamar salah seorang anak baru di asrama. Tanpa sengaja aku menangkap pembicaraan mereka, yah mungkin saat itu mereka tak mendengar aku masuk, ini cuplikan pembicaraannya:

Wiyah : k ifah sibuk, kemarin hari lahirku, aku belum dikasih kado

Temannya : iya ya, ka ifah sibuk banar, kita ditelantarkan

Wiyah : Hari ini katanya pulang sore, jadi di sms kita disuruh cari makan sendiri

Temannya : kasihannya kita di nomerduakan

Mendengar percakapan itu aku tertegun dan merasa bersalah, sedemikian perhatiannya mereka terhadap aku akhir-akhir ini. Hari itu aku berjanji bakal membuatkan sarapan untuk mereka esok pagi. Hiks...


Ini adalah konsekuensi sosial dari sebuah kehidupan, kita harus adil terhadap semua orang. Meskipun mereka mengerti & mencoba memahami perjuangan ini untuk dakwah, Aku juga harus mengerti terkadang ada waktu khusus yang harus dialokasikan untuk sekedar berbincang bersama mereka. Intinya, bagaimana konsekuensi ideologis sebuah perjuangan itu mampu berjalan beriringan tanpa ’mengganggu’ kehidupan sosial. Aku jadi teringat kata seorang teman. Dia bilang ’Yang enak itu, menyendiri seperti Rasulullah di gua Hira ukh, kita kada bakal pusing’. Tapi tentu saja ini statment subjektif dan merupakan pilihan yang kurang tepat!

Menjadi Purnama

Namanya Rini Fatmawati, SP, saya pertama kali mengenalnya melalui sebuah organisasi bernama KAMMI. Waktu masuk ke KAMMI kami senasib, sama2 titipan dari komsat Banjarbaru yang di ikutkan Daurah marhalah 1 (Acara yang merupakan gerbang masuk ke KAMMI) di Banjarmasin, tapi saat itu saya pulang duluan karena merasa tidak betah. Semenjak saat itu saya sering bertemu dengannya di acara kajian keislaman & politik maupun aksi KAMMI. Meskipun tak sering bersama (karena kami kuliah di Fakultas yang berbeda) bisa dibilang hubungan pertemanan kami sangat dekat. Karakter kami yang sama2 terbuka menjadikan saya akan mudah bercerita apa saja kepadanya dan dia pun begitu, hampir tidak ada yang kami tutupi. Tentang cita-cita, harapan, kekesalan, kekecewaan & segenap perasaan lainnya. Ketika saya merasa ‘tak sanggup’ memikirkan KAMMI, maka dialah yang dengan sabar & setia menunggu saya menangis hingga kemudian bercerita tentang apa yang saya rasakan. Kemudian dia akan selalu merasa bersalah dan berkata ‘afwan ya ti, selama ini ana kada optimal di KAMMI’. Terkadang kami bersatu dalam kebaikan tak jarang juga berpadu dalam membuat makar (kalau ide2 jahilnya lagi keluar :p)

Di masa akhir-akhir kuliah, kami pun seringkali menghabiskan waktu bersama. Saat itu dia banyak mengalami kesulitan dalam hal transportasi ketika harus konsultasi dengan dosen pembimbing atau perihal pengetikan skripsi yang harus mempergunakan tenaga ikhwan, sebagai saudara saya pun menawarkan bantuan untuk menjadi ‘ojek’nya.

Tiga hari menjelang perayaan wisuda kami menyepakati untuk menghabiskan sore bersama, kami keliling murjani sambil makan ice cream dilanjutkan dengan jagung bakar dipinggiran taman air mancur. Tema besar pembicaraan hari itu tentang cita-cita pasca kuliah.. Saya pun bercerita panjang lebar tentang rencana hidup saya setelah kuliah berakhir, mulai dari rencana karir, planning dakwah ketika kembali ke tanah kelahiran, tentang S2 ke Bandung yang urusannya sudah hampir setengah jalan, tentang cita-cita saya S3 keluar negri. Mendengar saya bercerita dengan sangat semangat dari A sampai Z, rini nyeletuk, ‘loh ti nikahnya kapan?’ menyadari itu kami tertawa bersamaan. Dan dia bilang kalau dia ingin menerapkan ilmu pertaniannya di kapuas dan menikah sebelum melanjutkan jenjang pendidikannya ke S2. Saat itu saya kaget, ‘Hah!..rini yang sangat polos sudah berfikir sampai kesana..Salut!’ Saat itupun kami kembali tertawa berbarengan, Lucunya :)

Hari ini Allah mewujudkan salah satu cita2nya, menikah sebelum S2. Begitu dapat SMS darinya perihal pernikahan itu, saya langsung menelfon dia, bertanya tentang prosesnya, dan Alhamdulillah prosesnya terjaga dan selamat. Sebagai temannya jelas saya merasa sangat bahagia dan bela-belain harus datang ke acara walimahannya kemarin..’ Rin sekarang anti seperti bulan sabit yang berubah menjadi purnama’. specially message for rini :

Dear : Retno, ifah, kia
Hehe…akhirnya..:)
Barakallahukum ya
rin…
Moga rumah tangganya berkah & Allah kekalkan pertalian cintaNya hingga bermuara ke syurgaNya. Akur-akurlah, jangan rancak besarikan.
Cz besarikan tu hanya hak-hak wanita lajang jar, he100x :p
Bagun rumah tangga ideologis-strategis dengan visi yang jelas. Jangan lupa dengan cita-cita besarnya ya..’Menggarap sawah untuk Indonesia’ agar rakyat negri ini berkeadilan dan sejahtera, COBLOS NO.... (Dua2x SP sih, he1000x)
Oy, titip KAMMI juga, bawa jiwa dan hatinya kemanapun kalian pergi, cz mengutip kata2 pa amin sudarsono ’ Idealisme KAMMI itu sepanjang hayat’. Tema perjuangannya ’membangun peradaban dari pelosok Kapuas’, keren kan rin? Oy, Sorry sampai hari ini blm sempat kirim manhaj kaderisasi buat komsat Kapuas, yang sabar y..(anggap aja latihan supaya ga terlalu polos ;p) Ibarat bulan, sekarang anti sudah purnama (indah sih...tp tetap aja bulan sabit lebih berseni, hehehe...)
Love U

Thursday, October 16, 2008

Yang Luruh & Yang Meneguh

Tak ada satupun makhluk yang tau kemana kehidupan ini akan bergulir. dan juga apakah kita masih akan tetap ‘disini’& merasakan nikmat iman ini untuk beberapa waktu nanti, sama halnya dengan tidak adanya jaminan bahwa kita masih akan menikmati terbitnya matahari esok hari. Inilah sebabnya mengapa saya begitu mencintyai KAMMI, karena hari ini bagi saya KAMMI-lah tempat yang cocok untuk mengejewantahkan iman dan memperkuat simpul demi simpulnya agar tetap eksis ketika harus menghadapi dunia ‘nyata’. Karena KAMMI bagi saya adalah representasi kedalaman pengorbanan, bukan ashabiyyah.

Tak ada diantara kita yang tau seperti apakah rupa kita dihari esok, sama seperti halnya dulu kitapun tak menyangka bahwa kita akan menjadi seperti ini hari ini. Yang kita tau hanyalah bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas diri dari hari ini atau minimal mempertahankan apa yang terbaik yang kita miliki. Perlahan merubah orientasi duniawi menjadi orientasi ukhrawi agar kemudian hidayah itu kekal dan abadi

Hari inipun rencana Allah itu berlaku, Dia mempertemukan saya dengan beberapa teman satu SMU. Allah berkehendak membuka pintu cahayanya hingga akhirnya mereka hijrah ketika memasuki gerbang Universitas, bahkan di antara mereka menjadi ‘orang penting’ dan penjaga gawang di dakwah tarbawi dan siyasi kampus. Dan alhamdulillah hidayah itu juga sampai hari ini masih saya miliki & jujur saya tidak rela jika harus kehilangannya. Walaupun sebelumnya pertemanan kami tidak begitu dekat, namun ketika bertemu kemarin semuanya terasa akrab dan hangat. Kami bahu membahu mensinergiskan cita-cita untuk memperbaiki kampung halaman. Begitulah ikatan iman, Saya samasekali tak meragukannya! Karena kita bisa mengenali bahwa seseorang itu adalah saudara kita sebelum kita pernah mengenal pun bertemu dengannya.

Namun sayang disaat yang sama Allah juga mempertemukan saya dengan sahabat karib saya yang aktif di ROHIS sekolah semasa SMU dulu. Kami mengenal da’wah ini berbarengan di kelas 1 SMU. Dan akhirnya Allah takdirkan kami berpindah di’kendaraan’ dakwah yang sama ketika kami kuliah. Dulu ia sempat begitu bersemangat mengabarkan pada saya bahwa ia telah bergabung dan berjuang bersama KAMMI, saat itu aku belum jadi anggota KAMMI. Tapi hari ini saya harus bersedih karenanya, saya sangat kehilangannya. karena kini ia justru memilih jalan berbelok setelah keluar dari pintu Universitas. Dan dengan lantang berterus terang pada saya bahwa dia sudah memilih jalannya, ia dekat dengan seorang laki-laki hanya karena tuntutan keluarga (Allah lindungi aku& berilah kekuatan padanya)


Teriring do’a ketika salam perpisahan itu terucap/ Ada harapan sesuci embun pagi dan begitu sederhana/ Sesederhana rasa ini dari kami yang tak pandai berkata-kata/ Pada sosok Mujahidah yang begitu KAMMI cintai dan banggakan/ Semoga Allah mengizinkan “ia” selalu ada dalam barisan ini..

Ada rindu yang begitu dalam ‘tuk mendengar kembali/ Lantang Takbir dan semangat yang begitu berkobar/ dulu…, ia miliki dan berikan pada KAMMI/ Dari jiwanya.., sepenuh hatinya.., sedalam pengorbanannya ..

Mungkin.. telah semua, “ia” beri tanpa sisa/ Mungkin.. tak pernah kami mengerti, asa di hatinya/ Hanya penat dan peluh tertinggal di raganya/ namun ku yakin “tidak” di jiwanya/ Walau kami tak pernah bertanya.., lelahkah antii??

Agar KAMMI sadar karena tak selalu di sampingnya/ Agar KAMMI sadar tak selalu membelanya/ Agar KAMMI sadar tak selalu dapat menjaganya/ hingga terikpun datang menghampiri/ Jangan tersungkur diterjang kerikil-kerikil ujian/ jika tersaruk kembalilah pada azzam/ Berteduhlah hanya dengan cinta-Nya yang tak berhujung

Bila saja do’a dan cinta kami bisa menghantarnya kembali/ Akan kami sambut ia dengan sepenuh jiwa/ Seperti jiwa-jiwa yang pernah ia gores dengan shaksiyah-Nya/ Seperti jiwa-jiwa yang dulu lemah dan telah ia “tegarkan...”/ Seperti KAMMI yang selalu merasa “begitu ia sayangi”/ Seperti itulah KAMMI tak rela kehilangannya/ “Ia” adalah saudara kami/ ia juga bunga da’wah KAMMI yang telah menebarkan wanginya kepada sesama../dan berharap ia hanya layu sebentar saja!


Satu hal yang hari ini masih saya yakini, bahwa Allah menciptakan teman, sahabat, keluarga dan semua yang ada disekitar kita, pada hakikatnya untuk mendidik diri kita, agar kita yang tadinya hanya berkualitas selevel lumpur pasir mampu menjadi intan!



Berau, 0810’08

Dipergeseran hari...

Semoga semua peristiwa mampu membuat keimanan kita sempurna

Allah kuatkanlah yang sedang teguh & kembalikan yang sedang luruh..



Monday, October 6, 2008

Belum Saatnya 'Berpaling'

Menjelang hari lebaran lazimnya orang ramai berkirim SMS untuk benar-benar mensucikan diri dengan cara meminta maaf sekaligus menyambung silaturrahim dengan sesama. Hal yang samapun saya lakukan di malam hari lebaran 1429 H ini. Karena jaringan yang padat dan ada beberapa nama yang hampir beberapa bulan tidak saya hubungi, akhirnya saya merasa perlu untuk memastikan apakah nomer tersebut masih aktif atau tidak, beberapa nomer saya miscall termasuk didalamnya nomer beberapa wartawan media cetak dan elektronik.

Khusus untuk para wartawan, sebenarnya saya ingin mengirimkan ucapan lebaran atas nama sebuah lembaga besar di Kalsel, hal ini linier dengan job saya sebagai bagian dari orang yang diperbantukan di tim media wilayah. Tapi ternyata saya kalah cepat, sebelum SMS saya kirim & tak berapa lama setelah saya miscall ada beberapa yang merespon balik dengan SMS & ada juga yang balik menghubungi saya ’mb ifah, knp td miscall? KAMMI handak aksi kah? Kpn? Issuenya apa? Rutenya?’ mendengar rentetan pertanyaan itu saya jadi geli, dan akhirnya saya menjelaskan bahwa saya cuma mau nanya kabar dan menyambung tali silaturrahim serta mohon maaf atas kesalahan selama berinteraksi dilapangan beberapa kali dg mereka. Mendengar penjelasan saya, gantian mereka yang tertawa, ’Oh iya lah esok mau lebaran, aku kira KAMMI mau aksi, kan biasanya kalau mb ngubungin pasti mau aksi’. Mendengar penjelasan itu gantian saya yang tercengang, segitunya! Hiks.. :(

Dengan mempertimbangkan apa yang baru saja terjadi, akhirnya sms lebaran yang baru saja mau saya kirim atas nama sebuah lembaga di Kalsel itu saya ubah atas nama KAMMI Daerah Kalsel, cz khawatir dampaknya kurang baik bagi KAMMI. Setelahnya saya jadi berfikir & berapologi, ini sebuah pertanda bahwa saya belum di izinkan untuk berpaling dari KAMMI, insyaAllah :)

Sunday, September 21, 2008

Simbol Spiritualitas atau Spiritualitas Simbol?

Refleksi...
'Benarkah Tanglong sebagai budaya spiritual masyarakat yang berlu dijaga?'

Malam ke-21 ramadhan diKalsel, Jalan utama Banjarbaru padat, warga banyak berhamburan keluar untuk menonton Tanglong - Budaya Kalsel menyambut hari ke-21 Ramadhan-. seperti apa yang dikatakan John naisbitt dalam buku Megatrends bahwa zaman akan bergerak menggiring manusia menuju pusaran spiritualitas, Tp saya yakin bukan ini indikasinya, atau justru 'spiritualitas simbol' seperti ini kah yang dimaksud? Entahlah..sejauh ini analisis saya masih blm matang, referensi terbatas..
Mengamati fenomena di malam perayaan tanglong, Saya menjadi miris melihat pemandangan yang ada. Muda-mudi bergentayangan disepanjang ruas jalan dengan pakaian yang kurang pantas (dlm kacamata saya), belum lagi berjuta-juta uang yang dibakar malam itu dalam bentuk mercon dan kembang api..Benar2 pemborosan. tak hanya sampai disitu, tanglong mempunyai efek negatif yang berkelanjutan, yang pasti keesokan harinya udara jadi kotor&sampah bertebaran menghiasi ruas jalan. saya jadi banyak berfikir, fenomena ini sangat kontroversi dengan karakter masyarakat kalsel yang terkenal agamis. walaupun subtansinya adalah syiar islam, tp sambutan sebagian besar masyarakat justru berbeda dr subtansi awal. jika realitanya seperti ini masihkah perlu budaya Tanglong dilestarikan? pantaskah acara yang sedemikian banyak menimbulkan mudharat justru dikatakan sebagai simbol spiritualitas? Entahlah..saya masih berusaha mencari sejarahnya

Transisi Menuju Dakwah Masyarakat

Kemarin saya berkesempatan silaturrahim dengan warga di desa landasan Ulin Banjarbaru sekaligus ifthar bareng di KM.21. Sebenarnya butuh perjuangan yang cukup sulit untuk saya bisa memenuhi undangan pertemuan itu, yah..mungkin bisa dibilang kontroversi hati, karna disaat yang sama juga ada undangan ifthar (buka puasa) bareng dari rekan2 gerakan mahasiswa. Tak heran hal ini kembali terjadi, karena sebelumnya apologi2 untuk mencari pembenaran atas ketidak adilan saya tanpa sadar sudah saya lakukan. hanya karerna saya belum menenukan ruh juang diranah dakwah yang baru ini, kali ini saya tak punya cita-cita strategis, hanya ada cita-cita yang sifatnya pragmatis dan itupun persentasenya tidak bisa dibilang besar.
Ya, beberapa waktu lalu saya sempat bicara dengan bapak yang menjadi penanggung jawab dakwah masyarakat ulin, meminta pengertian dan permakluman atas kerja-kerja saya yang selama ini kurang optimal. Terkadang saya juga tidak mengerti alasan apa yang membuat saya begitu sulit mengurangi perhatian pada dakwah mahasiswa, sehingga beberapa kali pertemuan bersama warga ulin tidak saya hadiri hanya karena pertemuan itu berbenturan dengan acara KAMMI yang sudah saya janjikan terlebih dahulu. Sampai akhirnya saya menerima sebuah sms yang sangat menggugah rasa tanggung jawab saya, bahwa selama ini saya telah secara sengaja melalaikan amanah yang besar itu, bahwa selama ini sikap saya sangat tidak adil padahal pilihan menerima amanah itu saya lakukan secara sadar.
Selama acara berlangsung saya kehilangan konsentrasi, atau mungkin lebih tepatnya merasa terasing. Keterasingan itu kian membesar ketika mengingat sekian puluh kilometer dari sini teman2 saya juga lagi asik buka puasa bersama anak-anak mahasiswa. Disini tak ada pembicaraan ideologis-strategis, disini juga tak akan ditemukan diskusi2 menyenangkan tentang peradaban masa depan. jangankan berharap ada pembicaraan2 seperti itu, karena problematika rumah tangga saja sudah membuat kening para ibu2 itu berkerut. terasa 'aneh' bagi saya ketika harus memulai pembicaraan bertopik sederhana tentang seputar kehidupan mereka, bercanda dengan anak-anaknya atau obrolan iseng seputar cara membuat kue&urap. nampaknya kali ini saya menjadi seorang adaptor yang cukup lambat, tapi saya memang harus banyak belajar, belajar dengan filosofi yang tepat, bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru...Para ibu2 rumah tangga itu adalah guru, minimal guru atas kesabaran saya
Dalam perjalanan pulang sambil berkendaraan saya banyak merenung dan berfikir. selama menjadi mahasiswa begitu jauhkah jarak saya dengan masyarakat? Benarkah visi KAMMI sudah terinternalisasi secara benar didalam diri saya, benarkah impian 'masyarakat islami' itu perlahan telah berusaha kami wujudkan sementara realitanya sulit sekali membangun komunikasi horizontal dengan elemen terbesar itu..
Fenomena ini benar2 paradoks sebuah gerakan mahasiswa, jika tidak segera kita perbaiki. karena kita seringkali 'ingin mereboisasi bumi tapi jarang sekali memerintahkan tangan untuk turun sekedar menyentuh bumi'..
Semoga dengan tempaan amanah ini saya jd lebih bersemangat dalam belajar menghadapi dunia yang sebenarnya, bahwasanya amanah ini merupakan bagian dari usaha saya untuk mengimplementasikan cita-cita besar KAMMI, 'mewujudkan masyarakat islami bagi Indonesia'.

Banjarbaru,210908---02.00wita
kesadaran yang terbangun dalam keterasingan

Friday, September 19, 2008

Merentas jalan Panjang Menuju demokrasi Unlam


Unlam belajar bercita-cita...
Sudah hampir 6 bulan aku meninggalkan 'area putih' ini. aku baru bisa merasakan betapa sulitnya melangkahkan kaki dikampus ketika status kemahasiswaan tak lagi disandang. sama sulitnya ketika harus menjawab pertanyaan teman2 kedokteran perihal status akademik sewaktu audiensi. aku teringat ketika awal menginjakkan kaki di Universitas Lambung mangkurat yang pertama kali aku cari adalah masjid kampus dan sekretariat kemahasiswaan. Lazimnya sebuah kampus, aku pun berharap unlam memenuhi kriteria itu. berharap kampusku adalah kampus yang dinamis, sarat akan nilai-nilai idealisme mahasiswa & keberanian, kampus yang didalamnya mahasiswa saling berlomba mengasah sensitifitas sosial, yang berani berkata 'lawan' ketika pihak 'tak berhati nurani lancang mengotori kebanggaan subtansif almamater. tapi ternyata Unlam dalam penilaianku tak lolos verifikasi. Maka sejak hari itu saya pun bercita-cita, berharap mampu mengajari unlam untuk juga bercita-cita, menggandeng tangannya, mengajarinya berjalan kemudian berlari bersama, agar tak hanya menjadi bagunan besar yang tanpa nilai

Cita-cita hampir terwujud, Unlam berpesta..
Akhir Juli-Awal agustus 2008, 5 berkas pasangan calon pemimpin Unlam lolos dari proses verifikasi KPU.. di bulan agustus ini baliho, pamflet, banner, spanduk beberapa pasang calon turut berlomba meramaikan unlam yang biasanya 'sepi'.. Unlam mulai berwacana, mulai dari excellent campus, nasionalisasi aset2 unlam, konsolidasi internal, membangun bargaining Unlam ditataran ekstern. beberapa gerakan menggeliat, mungkin berusaha memanfaat momentum atau sekedar ikut-ikutan. beberapa diantaranya berkompetisi, namun tak sedikit juga yang saling bahu membahu. Kini Unlam mulai ramai, paling tidak disana bertambah banyak mahasiswa yang benar2 layak menyandang predikat istimewa itu

Invasi Gerakan...
Detik-detik terakhir menjelang berakhirnya waktu kampanye terbuka, tiap pasang calon banyak mengalokasikan waktunya untuk melakukan audiensi keberbagai lembaga tingkat universitas maupun fakultas, sebagai tim sukses salahsatu pasang calon untuk teritori banjarbaru hal yang sama pun kami lakukan. menjadi sarana mediasi kebeberapa fakultas sehingga calon dan pembesar2 fakultas dapat berdialog
Dalam beberapa kali audiensi, jujur saja terkadang saya merasa agak greget dengan calon yang kami usung, karena calon yang kami usung ini begitu 'baik hati & legowo' (begitu saya menyebutnya). bagaimana tidak, karena mereka akan selalu mengedepankan proses pembelajaran dari pada sekedar meningkatkan proses perolehan suara. sebenarnya tidak ada yang salah, hal itu justru sangat diperlukan untuk mendidik mahasiswa unlam mjd lebih cerdas secara gerakan. Hanya saja terkadang mereka melupakan instrumen yang paling penting untuk meraih kemenangan dalam sistem demokrasi, perolehan suara.

Invasi Pemikiran..
Kurang dari jam 07.00 pg kami para tim sukses wanita sudah bertebaran dibeberapa fakultas sesuai dengan hasil rapat yang telah kami tentukan. Butuh pengorbanan tentunya karena malamnya harus bergadang membuat seribu bunga kertas untuk dibagikan ke mahasiswa sebelum ritual keliling kampus diadakan sambil menunggu dialog terbuka ke-5 pasang calon dimulai.
Aku hampir kecewa, beberapa hal terjadi diluar prediksi, keliling kampus terancam gagal karna kekurangan massa. jika usaha telah mencapai titik klimaks, maka saatnya kembali kepada yang Maha berkehendak, mencari tempat bersandar, aku shalat dhuha dan mentausiyahi diri dengan ayat-ayatNya.. Tak berapa lama, teman2 datang. keliling kampus jadi dilaksanakan, walaupun agak berbeda dari bayanganku awal. kami menyeru mahasiswa untuk lebih cerdas & berpartisipasi menentukan pemimpin yang tepat bagi unlam. aku bahagia.

Detik-detik menegangkan & menentukan..
17 september 2008, dari pagi hingga sore aku cancel semua agenda pribadi & mengalokasikan waktu sepenuhnya untuk kampus. karena aku berfikir bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir untuk ikut menorehkan sejarah dikampus. Salah satu cita-citaku saat masih dikampus, 'menggiring pemilu Unlam'. Hari itu proses pemilihan berjalan lancar meskipun tetap ada lika-likunya. Perasaan juga mengharu biru terkadang tegang karena ada sedikit masalah, terkadang haru karena melihat para penerus perjuangan itu begitu bersemangat, tak jarang ada juga perasaan marah karena ada beberapa pasangan yang tidak fair atau sedikit kecewa karena TPS dibeberapa fakultas sangat sepi. Tepat pukul 15.00wita beberapa TPS melakukan perhitungan suara.. terkadang kami ketar-ketir juga karena perolehan suara minim, tapi tak dibeberapa waktu kami menjadi sangat percaya diri karena dibeberapa TPS calon kami meraih dukungan terbesar. Habis magrib berdasarkan hasil quick count oleh tim pemenangan pemilu kampus pasangan yang kami usung menang dinyatakan menang. dari seluruh pemilih kami mendapatkan persentase dukungan 54,52% jauh melampaui calon pasangan lain. kami bersyukur sekaligus beristighfar, karena bisa jadi Allah sedang menguji..namun disatu sisi kami masih dihadapkan pada PR besar mencerdaskan mahasiswa Unlam, karena dari sekitar 13.000 mahasiswa Unlam yang berkontribusi di pemilihan kurang dari 4000 mahasiswa, ini artinya legitimasi kepemimpinan hanya berkisar 27%-30%.
payah memang!

Kini Unlam mulai berani belajar berjalan, terseok-seok ditengah segala keterbatasan. kaki dan tangannya masih terlalu lemah untuk menopang. Tapi aku masih sangat optimis dimulai dari 1-2 langkah kecil ini, suatu saat ia akan mampu berlari, mensejajari langkah-langkah panjang teman2nya dibelahan bumi yang lain...