Saturday, January 10, 2009

Say hello...

Kangen coret-coret di blog ini...
lama ga menjenguk..
bukan karna ga ada bahan coretan,
tapi terlalu banyak hal yang ingin saya ceritakan..
rasanya tak cukup waktu untuk menjadikannya rangkaian kalimat ataupun bait..
Teman2. mhn maaf lama testi-nya ga bisa direspon,
soalnya sekarang waktu banyak habis dijalan PP Banjarmasin-banjarbaru
Mhn do'a juga smg Allah senantiasa beri kekuatan menebar manfaat disetiap tempat
serta keikhlasan dan kemenangan iman atas segala ujian yang terjadi dalam hidup,
Karena pada hakikatnya hidup sendiri adalah kumpulan ujian..
mohon do'a agar senantiasa ingat bahwa Allah adalah Maha segalanya, Raja diatas segala raja

Friday, December 12, 2008

Islam dan Logika

Suprise!
Hari ini Allah kembali memberi pelajaran, betapa ternyata aku masih harus banyak belajar. Tepatnya tadi malam Aku mengikuti sebuah diskusi bertema 'teori pembebesan islam' dengan salah seorang ustadz yang katanya lulusan Iran. yang hebatnya lagi acara ini bukan diadakan oleh teman-teman dari kelompok-kelompok studi islam kampus melainkan dari kelompok MAPALA alias mahasiswa pencinta alam, hebat bukan? menurut aku pribadi ini merupakan kemajuan cara pandang akan sebuah kebutuhan tentang ajaran agama sebagai muslim.
Diskusi berjalan mengalir. seru, religius namun ilmiah. Seperti potongan kalimat ilmuan islam ternama yang pernah Aku baca, beliau mengatakan bahwa 'islam adalah agama logika'. aku fikir diskusi malam tadi cukup representatif menggambarkan potongan kalimat-kalimat tersebut. Bagimana kemudian agama (islam) coba dimaknai dan diterjemahkan oleh akal kedalam contoh-contoh konkrit yang secara logika sangat sulit untuk dibantah atau dipatahkan (mudah diterima). Rasionalisasi untuk membuktikan bahwa islam sebagai agama yang syamil dan mutakamil dimunculkan dengan argumentasi yang lugas&cerdas oleh ustadz (yang menurut analisaku menganut ajaran syiah) itu.
Pembahasannya tajam tapi juga cukup memusingkan, yang pasti satu pelajaran berharga yang aku dapat: jangan sekali-kali salah memilih diksi (kata) ketika berdiskusi dengan orang-orang seperti ini, selain itu argumentasi yang digunakanpun harus yang sangat mendasar. karna jika salah omong anda bisa dibantai habis-habisan dan dibuat bingung, mirip seperti pengalaman saya belajar matematika, penuh analisa, abstrak namun valid!
Agak berbeda dengan cara belajar aku selama ini, lebih cendrung 'pasrah' untuk memahami hal-hal bersifat ghaib yang mestinya tidak lagi menjadi perdebatan. Namun kali ini berbeda beliau mampu menemukan satu titik kesehfahaman yang ditarik dari nalar akal&dialektika religius yang bersumber dari niali2 dasar agama. metode doktrin yang cukup baik, namun jika tidak kuat sangat mungkin untuk salah tafsir&menggerus keyakinan. maklum nilai filsafatnya cukup kental :)
Namun sampai hari ini masih terlalu banyak paradoks yang ada dikepala saya, jika prinsip-prinsip dasar itu begitu indah dikuasai, lantas mengapa ada aplikasi yang begitu jauh berbeda ketika prinsip-prinsip dasar itu berdiferensiasi dan ditabrakkan dengan realitas? yang pasti ketika kita berbicara logika, maka akan kita temukan ruang-ruang persepsi disana. yang menjadi masalah, tidak mungkin kita menilai sesuatu memakai persepsi orang lain, persepsi orang lain hanya cukup menjadi referensi yang bisa diterima namun bisa jadi ditolak. namun aku fikir logika saja tidak cukup masih ada ruang rasa disana yang pemeran utamanya adalah nurani. namun disaat sekarang ini berapa banyak orang yang mampu sungguh-sungguh berdialog dengan nuraninya? variabel apa yang menjadi tolak ukur nurani? apakah hanya rasa nyaman? kalau seperti itu, jawabannya akan kembali menjadi sulit karena semua orang mempunyai ego. Pembahasannya tentang ini hampir tak ada yang detail, masih begitu general karena memang hanya sebatas itulah yang bisa dibahas. konklusi yang bisa aku ambil adalah masing-masing diri kita harus mengoptimalkan daya nalar & kebeningan hati untuk semakin mempertajam nilai-nilai kebenaran itu. ujung-ujungnya kembali kepada diri masing2. bagaimana kita mampu mengapresiasi diri dan melakukan pencerahan pada diri kita. secara teori kelihatan sederhana namun ternyata begitu rumit!
Sampai saat ini aku belum bisa menemukan jawabannya, haruskah kembali merujuk pada kebijakan sebelumnya: 'biarlah waktu yang akan menjawabnya, hhff.........'

Banjarbaru, desember 08
dipersimpangan...

Tuesday, December 9, 2008

Antara Idealisme & Profesionalisme

Ketika berbicara antara idealisme dan profesionalisme maka sesungguhnya pada saat itu tak jarang kita ditempatkan dalam ruang keputusan yang cukup sulit. Ketika berbicara masalah idealisme maka fokusnya akan menyerang pada pilihan, pengangan dan prinsip hidup. Sementara prinsip hidup akan sangat bergantung pada bagaimana persepsi seseorang menilai hidup dan menempatkan dirinya dalam kehidupan itu sendiri. Idealisme akan sangat berkaitan dengan apa yang kita yakini, tolak ukurnya adalah apa yang ada dalam diri kita.
Sementara itu ketika kita berbicara profesionalime maka kita akan berbicara tentang ruang-ruang yang sangat relatif dan multitafsir, sangat tergantung pada sistem dan tatanan nilai yang berlaku dalam sekelompok orang dimana kita berada dan beraktifitas dimana sistem itu diciptakan oleh persepsi dominan yang diamini dalam lingkup masyarakat tersebut.
Yang menjadi problem adalah ketika kedua hal ini ditabrakkan dalam suatu nilai yang tidak seirama. Di satu sisi ada tuntutan jiwa untuk memperjuangkan apa yang menjadi prinsip hidup, namun disisi lain ada tuntutan untuk menghormati nilai-nilai 'sakral' di masyarakat.
-------
Beberapa hari lalu saya mengalaminya,
waktu itu adalah jadwal tes interview menjadi reporter pada sebuah media audio diwilayah saya. Asal engkau tau kawan, ini adalah lamaran kerja yang pertama kali aku ajukan. Dari dulu saya memang sangat tertarik dengan dunia media, karena saya menyadari betapa media sangat berperan besar dalam hal pembentukan paradigma berfikir dan penggerusan moral yang terjadi dimasyarakat kita hari ini. media adalah alat pendidikan yang punya pengaruh signifikan. Namun saya juga menyadari betapa besar tantangan yang harus dihadapi di ranah ini ketika kita membenturkannya dengan idealisme, wilayah ini kurang aman bagi seorang perempuan. tapi kita harus tetap melangkah&mengambil peran sekecil apapun itu!
Dalam perjalanan dari banjarbaru menuju banjarmasin sejenak saya dihinggapi keraguan, akan sebuah idealisme dan profesionalitas ketika dibenturkan pada adab interview. prinsip yang selama ini saya pegang kurang cocok dengan apa yang menjadi kebiasaan masyarakat hari ini. ada keraguan kalau saja prinsip ini justru menjadi penghambat bagi kelulusan. untuk mencari jawaban dan menenangkan fikiran, aku berhenti disebuah masjid besar di Kalsel. duduk, berfikir, merenung&menetapkan pilihan. Walhasil beberapa menit saya disana, saya temukan jawabannya yaitu tetap berdiri tegak di atas prinsip! intanshurullaha yanshurkum wa yustabbit aqdamakum...InsyaAllah Allah akan menolong & memberi yang terbaik sesuai dengan penilaianNya. Yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha optimal, jikapun hasilnya belum sesuai maka bisa jadi menurut Allah saya 'belum siap' untuk mampu bertahan di ranah itu. bukankah itu bentuk kasih sayangNya?
Saat itu saya sangat yakin, itulah pilihan hidup yang harus saya perjuangkan. ia adalah izzah (kemulyaan) yang tidak boleh tergadai, karena apa yang saya lakukan pada hakikatnya merupakan penghormatan terhadap diri saya sendiri dan orang lain. Jika di titik awal saja saya sudah kalah, bagaimana nanti saat menghadapi realitas yang jauh lebih 'ganas' daripada sekedar berdialektika ini dan itu saat tes.
Mohon do'a ya...
masih ada 2x tes lagi hingga akhir desember :)

Friday, December 5, 2008

Jalan-Jalan...

Cari Inspirasi...
Cari semangat...
Refleksi Diri...
Membuang Jenuh...
Menyambung usia...
And plg urgent, menyelamatkan diri! he...
Barabai...I'm coming...
I have feel ok :)

Wednesday, November 26, 2008

Tanpa Judul..

Hijau, merah, kuning, jingga, biru, coklat, ungu...
Akhir-akhir aku ini semangat, bahkan sangat semangat, walaupun realitas yang dihadapi mestinya membuat sedikit agak kesal ( seperti biasanya, he...)

Tapi kali ini berbeda, mau tau kenapa begitu??
- Reformasi Iman
Qs:3:139 :'Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman'
Qs:8:9 :'Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankannya bagimu, ' Sungguh Aku akan turunkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut'
- Reformasi Hati
Tetep...Sabar dan Syukur, 2 hal yang menjadikan tekad dan azzam semakin menguat, nafas perjuangan panjang, pasokan energi yang tak pernah habis n' api semangat yang tak pernah padam :)
- Reformasi Mental
Mengutip kata-kata Ust. Rahmat Abdullah di film 'Sang Murabbi'
"Ada 2 hal yang harus selalu kamu ingat yaitu kebaikan oranglain terhadapmu dan keburukanmu/kejahatanmu terhadap orang lain.. Dan ada 2 hal juga yang harus kamu lupakan, yaitu kebaikanmu terhadap orang lain dan keburukan/kejahatan orang lain terhadapmu"
- Reformasi Fikiran
Husnudzan : Teman, sahabat, saudara, lingkungan, orang tua dan apapun itu.. merupakan sarana Allah untuk mentarbiyah diri kita, agar kita yang tadinya hanya berkualitas selevel karbon bisa menjadi intan. cie....
- Reformasi Performance (he...)
Kita mungkin bisa menyembunyikan perasaan hati dibalik kata-kata lisan, Tapi ia akan selalu terpancar melalui gurat wajah dan semangat kita
Kata seorang teman, 'disaat hatimu dalam keadaan sempit/jelek, maka bercerminlah, Hasilnya?? bisa lihat sendiri :p

Banjarbaru, nov'08
masih dengan Semangat!

Wednesday, November 12, 2008

Kado Buat Muktamar 6 KAMMI

Entah sedang menguji, merajuk atau apapun namanya..
Yang pasti bagi saya,
Mungkin saja saat ini ia ingin mengkalkulasi seberapa banyak orang-orang yang menyayanginya dengan tulus..
Mungkin saja saat ini ia ingin tau seberapa besar cinta orang-orang itu untuknya..
Ia ingin membuktikan apakah sekelompok orang itu benar2 menjadi panah berjajar atau pedang terhunus yang siap melindunginya..
Ia juga ingin tau apakah sekelompok orang itu benar2 mampu menjadi butiran peluru atau belati tajam yang siap menjaganya..
Atau apakah sekelompok orang itu benar2 menjadi mata pena yang siap berteriak dan membelanya..
Ya, ia hanya ingin tau seberapa konsisten sekelompok orang itu untuk tetap membuatnya bersih dan bercahaya..
Percayalah, ia hanya ingin membuat kita merasa, peduli dan berfikir tentang nasibnya..
Dengan caranya sendiri yang terkadang mengejutkan,
Sebagaimana banyak orang juga terkejut saat ia lahir dalam dunia pergerakan..
Ini adalah bagian dari caranya untuk mengulang euforia kesolidan emas yang pernah ada..
karena mungkin ia terlalu lelah melihat kita yang hari ini tak banyak berbuat,
Yakinlah kawan, ia begitu karna ia merindukan kita, para pencintanya!


Mencoba menjaring hikmah
dari semua seliweran berita muktamar 6 di Makassar
Semoga proses menjadikan puncak perjuangan KAMMI sempurna
Banjarbaru, 13 nov 08


Monday, November 3, 2008

Ajari Saya Tentang Kesempurnaan Ikhlas..

Ikhlas!
akhir-akhir ini mungkin itulah kata yang perlu saya cari wujudnya. Banyak pemicu yang mungkin disebabkan oleh diri saya sendiri, sehingga sulit sekali untuk bisa ikhlas terhadap segala yang terjadi. Ditambah lagi kondisi fisik yang cukup terforsir dan minimnya interaksi dengan Al-qur'an hari-hari belakangan ini.
Saat ini seolah-olah semua kerja dibatasi oleh bom waktu, penuntasan semua kerja yang menjadi PR saya hari ini seolah harus berkejaran dengan waktu. tak jarang juga menuntut keadilan dari yang lain, sementara saya pun tak tau apakah saya juga sudah berbuat adil terhadap yang lain? sangat terasa pengambilan keputusan hari ini rata-rata bersifat emosional dan sama sekali tidak objektif, tapi saya tak mampu berbuat banyak bahkan untuk mengendalikan perasaan saya sendiri. dari dulu sampai saat ini saya masih beranggapan sama, bahwa setiap kader itu unik, masing-masing punya potensi, masing-masing punya keistimewaan untuk mengembangkan da'wah dimasing-masing ranahnya. Yang menjadi permasalahan adalah apakah itu benar2 terjadi? apakah da'wah itu senantiasa menjadi bingkai dalam setiap pilihan2 prestasi duniawi? wallahu'alam.
Kita memang tidak bisa membuat orang lain sama seperti kita. karena pada hakikatnya, semua orang itu berbeda. Tapi, apakah dalam prinsip dan aplikasi dasar juga harus berbeda? Apakah ketika aplikasi dalam mewujudkan kontribusi itu berbeda, maka yang lain tak akan mampu mengukurnya? hanya karena indikasi yang kita tetapkan berbeda. Lalu salahkah, jika saya meminta sedikit hak saya sebagai saudara atau sebagai seorang jundi? atau terlalu egoiskah jika saya hanya menjalankan apa yang menjadi kewajiban saya secara struktural dan berkata tidak untuk yang lain? walaupun lelah, jujur saya tak mampu melakukan itu. karena sesungguhnya tak ada batasan kerja jika kita mengaku bersaudara. meskipun saya tak tau apakah yang lain juga berfikir begitu.
Mungkin cara berkomunikasi yang salah atau justru ikatan hati yang terlalu lemah, sehingga tak ada yang menawarkan bantuan ketika kita butuh bantuan (meskipun berkali-kali kita telah mencoba mengatakannya). sehingga muncullah sebuah kebijakan: lebih baik mengerjakan sendiri apa yang bisa kita kerjakan, dari pada menghabiskan energi untuk terus menuntut tapi tak ada hasil, karena kita akan menjadi lelah dua kali (lelah secara fisik maupun hati). Dan semuanya menjadi berantakan ketika hantaman demi hantaman itu datang, dialog dengan diri sendiripun tak mampu banyak merubah rasa. Dominasi rasa bersalah membuat saya kurang bisa berfikir progresif untuk kemajuan organisasi. sebuah kekhawatiran yang menurut saya cukup beralasan. Maka izinkan saya meminta maaf untuk letupan-letupan emosi yang muncul tidak pada tempatnya, saya butuh waktu. untuk lebih ikhlas, karena semuanya bagi saya adalah proses. semoga kesadaran mampu menghasilkan sebuah gerak perbaikan,. kesadaran bahwa dengan seperti ini saya hanya akan membuang-buang waktu. Karena yang saya lakukan hanya terus berharap bahwa saudara-saudara saya akan mengerti, sementara sayapun tak berusaha merubah diri.
"Allah, tolong kembalikan ikhlas itu pada saya. Jangan biarkan dia terlalu lama berpisah dengan saya. Saya sangat yakin bahwa Engkau sangat tau apa yang saya butuhkan. Saya tidak minta agar engkau memberikan jalan yang mudah untuk menggapainya kembali, saya hanya minta agar Engkau terus memberi kekuatan untuk menempuh jalan sulit agar ikhlas itu kembali menjadi milik saya. Agar ikhlas itu benar-benar sempurna wujudnya, agar saya lebih mengerti bagaimana caranya bersaudara"

Banjarbaru, november 2008
Dengan penuh harap pertolongan Allah masih menjadi milik kita..