Monday, May 19, 2008

Sorry Mom, I'm Forget Again

Momen bersejarah itu tak sengaja saya lupakan lagi...

ini adalah kali kedua saya melakukannya, dengan penyebab yang juga sama. Tanggal 2 mei adalah hari bersejarah bagi negri ini, karena hari pendidikan dinisbatkan pada tanggal tersebut. Runtuh atau Tegaknya suatu bangsa ditentukan oleh bagaimana kualitas pendidikan itu sendiri.
Namun bagiku, tanggal 2 mei jauh lebih penting dari itu..
Karena pada hari itu adalah hari kelahiran ibuku, wanita bersahaja yang membuat aku ada didunia ini. Yang dari lisannya aku banyak belajar & mengenal apa yang ada disekitarku. wanita yang keras kepalanya terwariskan kepadaku..
Hari itu, tepatnya tanggal 2 mei 2008, mamaku berkali-kali menelfonku...
Tapi aku tak mendengar, karena hari itu suara sangat riuh, aku sedang mengikuti barisan demonstrasi hari pendidikan di Banjarbaru. Sebenarnya aku sempat mengingat momen itu, tapi aku sengaja menunda mengucapkannya, karena berfikir ketika aksi bukan lah saat yang tepat. Sampai akhirnya tak sengaja aku melupakannya.

Mama, maaf...
Sampai hari ini aku masih belum juga bisa pulang, meskipun aku sangat rindu
Aku sangat mencintai mama karna Allah, tapi aku juga sangat mencintai perjuanganku disini,
Aku yakin mama bisa mengerti...


Thursday, May 15, 2008

" I'm falling in L0v3"

Aku jatuh cinta…
Pada angin yang menerbangkan daun-daun gugur
Pada aliran air yang tak berbatas
Pada dinding bisu tak bersuara
Pada tumpukan sampah & perumahan kumuh...

Aku jatuh cinta...
Pada teriknya matahari yang membakar
Pada suara-suara jalanan yang menggemparkan
Pada bisingnya deru mesin kendaraan

Pada debu&asap knalpot yang selalu menghiasi perjuangan

Aku jatuh cinta...
Pada rasa sakitnya jatuh dan terpuruk,

karna dengan jatuh aku akan mengerti betapa sulitnya harus bangkit
Pada rasa kecewa tak terbantahkan,
karena dengan begitu aku akan mengerti betapa menyenangkannya jika bisa memaafkan

Aku jatuh cinta...
Pada rasa terasing
Rasa dihindari, dijauhi bahkan ditakuti

karena dengan itu aku akan belajar menaklukkan segala misteri

Aku jatuh cinta...
Pada ketinggian langit dan yang menghiasinya
Pada kedalaman samudra dan yang membuatnya ada
Pada semesta dan se-isinya....

Dan... Aku jatuh cinta...
Pada rasa jatuh cinta itu sendiri

seperti inikah rasanya jatuh cinta?


Banjarbaru, 120508
'menyadari dunia ini begitu indah'

Monday, February 11, 2008

Antara ILmu & AmaL

Sudah bukan rahasia umum kalau satu dua tahun terakhir ini proses pengkaderan diakui berjalan amat lamban, contoh konkrit, ya didaerah saya. Kualitas dan kuantitas hasil rekrutmen menjadi PeEr yang seringkali membuat kepala pusing tak hanya 7 keliling. Bahkan lebih ruwet dari study analisis matematika! (mata kuliah yang paling tidak saya sukai :p)

Tapi walaupun begitu, justru masalah pengkaderan ini lah yang sering kali, memenuhi tema-tema diskusi kami. Masalah klasik yang udah basi, tapi tetap saja semangat untuk membahasnya. Dari A to Z-nya realitas pengkaderan, semuanya dikuliti. Saya juga bingung kenapa kami seringkali membahas hal-hal yang memusingkan. Mungkin bisa jadi, justru pekerjaan sulit itulah yang membuat kita tertantang. Atau hanya ingin sekedar berbagi meringankan beban.

Sebagian besar kita tentunya sepakat, fikrah dulu baru harakah. Ilmu dulu baru amal, faham dulu baru gerak. Sejauh ini pun saya masih mempunyai fikiran yang sama. Syeikh Hasan Albanna tentu tidak sembarangan menempatkan poin pertama hingga kesepuluh dalam rukun bai’atnya. Ada pertimbangan, disusun berdasarkan analisis yang matang. Meskipun semuanya saling terkait, poin yang satu akan menyempurnakan kesembilan poin yang lain.

Saya sepakat, karena memang setiap perbuatan itu akan lahir dari sebuah pemikiran, dari sebuah alasan kenapa hal itu harus dilakukan. Begitupun untuk merubah karakter/perbuatan seseorang. Yang pertama kali harus diubah adalah pemikirannya. Semakin berkualitas pemikirannya, maka akan semakin berkualitas juga perbuatannya.

Contoh simplenya ghazwul fikri, Sebuah produk brilian guna menghancurkan peradaban. Peleburan sekaligus Penghancuran pemikiran. Karena saat mindsetnya sesat, maka perbuatannya pun akan senada.

Lantas apa yang membuat pengkaderan saat ini ga berjalan sebagaimana seharusnya. Kalau dari hasil pengalaman, analisa dan diskusi yang konklusinya seringkali saya ciptakan sendiri, yang menyebabkan itu semua adalah karena kita terlalu menuntut amal dari seseorang, sementara kefahamannya terhadap amal itu sendiri ga ada. Dia ga faham. Dan ini diperparah dengan tuntutan kita untuk senantiasa tsiqah dan tha’at saja pada kita, pada jama’ah ini. Sementara pertanyaan ’kenapa’ dari mereka tidak kunjung kita berikan jawaban. Bahkan lebih sadisnya lagi, kita menuntut mereka untuk memahaminya sendiri, tanpa kita berikan sarana.

Tarbiyah Dzatiyah...!!
Padahal mungkin mereka punya keterbatasan untuk melakukan itu semua. Kita pun berkilah bahwa terlalu sibuk dengan amal ini dan itu (Ini introspeksi juga buat saya). Akhirnya mereka jumud, merasa ga mendapatkan apapun dari amal yang mereka kerjakan
. And than, wait and see, kita bisa lihat sendiri. Satu persatu gugur.

Lalu kita berusaha membenarkan fenomena ini sebagai sunnatullah dakwah, selalu ada yang terseleksi dari kafilah ini. Perihal sunnatullah da’wah saya sepakat, tapi yang terjadi seolah pembelaan diri. Yah..lagi-lagi kita sangat pandai merasionalisasi keadaan, mengkambinghitamkan sunnatullah. Padahal pada tataran aplikasinya, pengelolaan kader kitalah yang masih lemah.

Masalah tsiqah-tsiqahan ataupun thaat inipun saya fikir terjadi pada sebagian besar kader KAMMI, termasuk saya! Dulu saat baru gabung dengan harakah da’wah saya ga tau kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa harus aksi dan lain sebagainya. Dan saat itu, meskipun sering nanya tapi saya ga pernah puas dengan jawaban yang diberikan. Lha gimana bisa puas, kalau jawabannya ”lihat saja nanti, biar waktu yang menjawabnya” atau ”jalanin aja dulu, nanti juga bakal tau sendiri”. Gara-gara ini, sampai-sampai gank kami sempat dapat cap sebagai ’trouble maker’, padahal menurut saya inilah yang namanya kritis.

Awal mula nyemplung diKAMMI pun seolah ada keterpaksaan. Mbak yang ngajak saya sempat bilang, Ikutan aja dulu, DMnya KAMMI. Nanti kalau ditengah perjalanannya ada yang ga sreg, gapapa keluar.Lho??
Padahal, sepemahaman saya. Yang dikenalkan pertama kali, bukanlah harakah (pergerakan), bukan juga wajihah (organisasi) tapi keindahan islam. Komitmen terhadap islam yang pertama kali dibentuk, baru kemudian dijelaskan bahwa komitmen menegakkan islam itu tidak bisa diusung sendirian, butuh kebersamaan, kerjasama. Baru kemudian ke wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan dari komitmen tersebut. Kalaupun harus langsung ke organisasi, aspek-aspek sebelumnya juga ga bisa ditinggalkan. Seperti itukan seharusnya?

Tapi kenyataannya, jauuh berbeda!
Dua tahun diKAMMI, fikrah keKAMMIan saya masih ga bagus-bagus (emang sekarang bagus :p) Ketika diturunkan sebuah kebijakan, yang tersampaikan hanya dalam tataran praktisnya. Sementara alasan kenapa kebijakan itu diambil bukan konsumsi publik KAMMI, seolah-olah hanya milik ’orang-orang yang berhak’ saja. Sampai akhirnya terjadi pembekuan daya nalar. yang senior ga berkembang, karna jarang dapat kritikan. Yang junior apalagi, karena ga ada suplemen pemahaman. Tidak ada budaya tanding pemikiran. Akhirnya sebagian besar kader tumbuh dengan pupuk tsiqah dan tha’at. Toh, sesama muslim tidak mungkin menjerumuskan. Dan sepertinya, tuntutannya memang seperti itu: Tsiqah, Tha’at dan Amal. Kalau mau faham, ya cari sendiri ilmunya!

Sekarang saya sadar, bahwa perubahan itu harus dimulai. Tak terbatas hanya pada dinding diskusi dan sekat tulisan. Sekarang saya juga malas untuk menuntut, Karena da’wah adalah Qudwah tak sekedar ajakan. Belakangan ini saya banyak berfikir bahwa jika kita pandai memeras amal, maka kita akan mendapat ilmu. Wallahu’alam


Teruntuk saudaraku distruktur kepengurusan KAMDA, Solidkan barisan.. sudah terlalu banyak waktu qt terbuang..
Teruntuk kader KAMMI dimanapun berada, Terus Bergerak, Tuntaskan Perubahan!
In the room of jihad, 22.15 – 22.51wita



Friday, February 8, 2008

Cinta Yg BerTauhid

Selaksa rasa berlomba mencari dimana muaranya
Lagi-lagi ia kembali tak berhasil mendefinisikan apa yang dimauinya

Luka tertawa, senyum menangis, mentari tetap bersinar meski gerimis

Ia tak mengerti, tapi ia tau jawabnya :

'karena mereka semua membawa pesan dari langit bertajuk cinta’

:
07-02-2008


Aku mengenalnya sekitar 4,5 tahun silam, pertama kali aku menjejakkan kaki di Unlam (Universitas Lambung Mangkurat) Kalimantan Selatan. Sapaan awalnya terasa biasa bagiku, pun ketika aku mulai mengenalnya dan mendefinisikan segala sesuatu tentangnya. Tak ada yang istimewa, tapi ku akui diam-diam sebongkah rasa kagum menyelinap dalam ruang rasaku dan aku peruntukkan buatnya.

Pelan tapi pasti, aku tak bisa membantah kalau bagiku dia memang istimewa. Konsistensinya dimataku bertambah ketika intensitas kerjaku bersamanya semakin sering. Amanah di Forum Studi Islam Ulul Albab FMIPA Unlam membuat kami semakin dekat. Dia adalah seniorku, Diah Perdana Fitriani. akhwat ke-dua yang kufikir mampu mengendalikanku tanpa aku sadari. Gayanya biasa, tampilannya sederhana, hampir tak pernah aku menemuinya dengan intonasi suara yang tak senada, terkesan lembut namun ketegasan selalu terpancar dari sorot matanya. Sebenarnya secara lahiriah karakternya sangat kontroversi dengan diriku, namun ada satu hal yang membuat kekagumanku selalu bertambah untuknya, hijab yang berbalut ketegasan dalam pergaulan itu benar-benar dimilikinya, dia punya izzah. Sesuatu yang saat ini banyak sekali tafsirnya, sampai-sampai tak bisa dikenali mana yang ‘isi’ dan mana yang sekedar ‘cover’nya saja.

Beberapa hari terakhir, kudengar kabar bahwa hari ini ia akan menikah. Prosesnya dilakukan begitu cepat. Tentu saja aku bahagia, karna tak satu kabar ‘aneh’ pun terdengar mengiringi acara pernikahannya, bisa dibilang prosesnya berjalan ‘aman & selamat’. Dia menikah dengan orang biasa yang luar biasa (ikhwannya orang ammah namun punya potensi besar untuk mengembangkan dakwah). Kemarin kami mengunjungi rumahnya, tak ada yang berubah, semuanya sama seperti dulu ketika aku sering mengantarnya pulang karena rapat di kampus baru selesai menjelang magrib. Ia menyambut kami dengan sebaris senyum, tak banyak kata-kata, jawaban-jawaban yang terlontar karena pertanyaan-pertanyaan nakal kami tetap sederhana namun penuh makna, bersayap-sayap (maklum, mba’ ku yang satu ini sastrawan, he…). Dia bilang biasa saja, namun aku yakin saat berbicara denganku ia sedang berusaha keras menyembunyikan perasaannya (karena dia pasti ga akan tahan kami ledekin terus beberapa menit kedepan), aku bisa membaca itu dari sorot mata dan gayanya berbicara, aku yakin itu!

Menurutku ini luar biasa, ditengah maraknya fenomena cinta yang berkembang tidak pada musimnya, dengan dalih ‘kita tanaman biasa seperti juga yang lainnya’. Ini adalah anugrah Allah yang dipercepat karena perniagaan cinta yang telah dilakukan hambanya, dengan menetapkan cinta kepadaNya di atas segala-galanya. Aku bahagia dan berdo’a semoga cinta yang mendasari pernikahan keduanya adalah cinta yang benar-benar berlandaskan tauhid. Cinta yang menjadi pupuk untuk menyuburkan pohon cintanya kepada Allah

Seperti keluarga ibrahim, mereka adalah profil keluarga yang menurutku mampu menempatkan cinta pada kerangka yang benar. Mereka mampu memaknai wala dan baro dengan benar, sehingga mudah bagi mereka untuk mentauhidkan apa yang mereka cintai, Cinta yang ditauhidkan! Karena menjadi fitrah bagi setiap manusia, bahwa ia akan senantiasa mengikuti irama apa yang ia cintai. Sehingga sangat rasional ketika Rasulullah mengajarkan umatnya berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku meminta untuk mencintaimu dan mencintai orang-orang yang mencintaimu dan mencintai segala perbuatan yang akan mendekatkan aku kepadamu”

Cinta yang bertauhid itu tentunya akan sulit diwujudkan oleh keluarga ibrahim ketika didalamnya tidak terdiri dari orang-orang yang mempunyai kekuatan fikiran dan keberanian jiwa. Karena orang yang mencintai sesuatu akan cendrung irrasional, namun ketika fitrahnya terjaga maka ia akan cendrung menjauhi itu, ketika fitrahnya terjaga maka ia akan mengerti bahwa rasa-rasa yang tak seharusnya itu harus segera ia ‘amankan’. Tentunya konsekuensi dari tindakan ini hanya akan bisa diambil dan dijalankan oleh orang-orang yang mempunyai keberanian jiwa, karena tidak semua orang bisa bertahan dalam kondisi seperti ini, di saat kita sendiri gamang menafsirkan antara cinta yang dilandasi nafsu & cinta yang dilandasi tauhid (karena tak jarang cinta yang berlandas nafsu meminjam topeng, seolah-olah menjadi cinta yang bertauhid). Kunci dari semuanya adalah kekuatan iman. Imanlah yang akan bertindak sebagai penerjemah ketika rasa kita tak lagi mampu menterjemahkan, imanlah yang akan mengambil keputusan ketika kita gamang dan kehilangan pendirian. Iamanlah yang akan memberikan penegasan ketika lisan kita mencoba cerdas berdialektika dengan segudang pembenaran. Kuncinya ada pada iman!

So, ketika mulai ada benalu di cabang-cabang cinta kita dan kita sadar sepenuhnya bahwa jika benalu itu dibiarkan maka ia akan merusak pohon cinta kita. Tapi ternyata dihati kita masih ada kata ‘sayang’ untuk memangkasnya. Maka tanyakanlah pada diri kita. Sebegitu lemahkah iman yang sekarang bertengger di dada kita? Wallahu’alam…


Teruntuk k’ Diah & her husband
Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fii khair…

Thursday, January 3, 2008

TriBuTe T0 My Self : HapPy MiLLad...

Tua itu Pasti,
Namun Dewasa iTu pilihan..
Hidup itu bukan Pilihan,
Namun tak jarang dalam hidup harus memilih...

Baru beberapa jam yang lalu perpindahan usia menjadi sebuah keniscayaan dalam hidup saya. Sementara goresan waktu yang lainpun akan mencatat sejarah yang sama dalam fragmen hidup setiap makhluk yang ada di semesta.
Pertambahan usia sekaligus berkurangnya jatah waktu menikmati dunia menjadi sesuatu yang senantiasa akan kita lalui. Namun, bagaimana kemudian proses kita menjajaki setiap jengkal perjalanan waktu, itulah yang menjadi nilai. Karena tak semua orang mampu mempergunakan waktu dengan baik dan optimal. Kadang tak jarang kita menetapkan standarisasi sendiri, padahal pemilik mutlak standar 'baik dan optimal' hanya Allah saja. Pertambahan usia yang harusnya identik dengan kedewasaan kita menyambut segala skenario-Nya ternyata tak semudah teori, banyak yang terjebak, terjatuh bahkan tersungkur. Semoga pertambahan usia selalu seiring dengan kebijakan dalam menyikapi realitas zaman, tanpa membuat cacat idealisme. Karena hidup adalah ujian, maka menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk menjalaninya dengan penuh kebaikan..
Ada banyak evaluasi, ada banyak mimpi&harapan, ada banyak kenangan, ada banyak kebaikan dan hikmah yang tak boleh terburai. namun ada juga luka, ada banyak kekecewaan, kesalahan dan kekurangan yang perlu bumi dihanguskan, agar tak menjadi penghalang tujuan dan rintangan bagi keikhlasan.
Dengan segala nikmat hingga detik ini,
'Fabiayyi 'alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan..
Hadirlah dengan 'jiwa' yang baru...


My private room..
banjarbaru, 3 januari 2008

Sunday, December 30, 2007

Kesejatian Perjuangan

Aku...Kau...
Kita,
Berdiri di angka satu, kesempurnaan angka,
'alastu birabbika? Qalu bala syahidna.
Kesyukuran...
Menggerakkan semangat mengangkat bambu runcing, pedang, tombak dan pena
Menimang dengan dodoi kesyahidan dan apapun yang kita bisa,
Membuktikan sebuah ikrar keyakinan.

Aku... Kau...
Kita,
Menarik garis di titik nol
Mengukir penghambaan diri ini siapa,
Ternyata karya belum jua sempurna.

Aku pejuang pembangunan kebenaran dunia,
Pun jua Kau seharusnya!
Yang menemukan terminal tak hingga.
Taqarrub melepaskan...
Energi yang tak kenal sisa
Zaman terlalu pelit merelakan tulang, darah, harta dan jiwa
Zaman terlalu egois membagi sayang, semangat dan berkata:
"Apa kabar Indonesiaku? Hapuslah airmata"
"Apa kabar bumi Rabbku? Teruslah bercita-cita"
Terlalu malas berfikir dan berencana
Apalah lagi memeras keringatnya
Angkuh mengakui neraca sunnatullah..
Merekayasa neraca sendiri dengan lantang
Kau menantang bumi dan langit adalah hal yang berbeda
Memporak-porandakan rangka tawazzun dan membuat semakin bingung
Hentikan omong kosong dan koarmu!
Bahwa kau telah berbuat.
Karna yang ku tau kau mengacaukan puzzle perjuangan kita,
Bukankah kau terlalu pengecut mengakui kata hati dan kebenaran ilahi?

Wahai putra-putri negri luka...
Harapan kami sangat sederhana
"Kami wasiatkan perjuangan dengan mengisyaratkan jalan terang,
Teruslah berjalan...
Tak usah hiraukan goda rayu dipersimpangan"
Cukup, begitu saja.

Tak ada pertanyaan yang sulit
Jadi untuk apa jawaban rumit berturut-turut
Pekerja pastilah berbeda dengan sekedar penuntut.

Sejarah telah banyak bercerita,
Tanam saja bambu jangan berhenti meruncingkannya
Ayu dan ayunlah wahai putra-putri negri dengan dodoi jihad dan pengorbanan
Giling saja biji-biji gandum menjadi roti,
Karena kita takkan pernah tau kapan bumi meminta
Balut saja luka dan obati ngilu yang tercipta
Taklukkan buku, ilmu dan tekhnologiNya
Tajamkan pena hingga tetes akhir tinta.

Tebar kebenaran...
Tak usah tanya sampai kapan,
Karena kita tau wahai putra-putri negri
Perjuangan ini takkan pernah mati.

Berlari...
Menyongsong noktah Tak hingga
Menemukan keberartian diri,
Kesejatian perjuangan,
Dan disitulah SYURGA!

Renungan akhir tahun
Refleksi pemikiran seorang 'Aisyah
...Banjarbaru...

Resume : Malapetaka demokrasi Pasar

Sejarah telah usai” teriak francis fukuyama. Itu didengungkan tepatnya setelah komunisme di Uni soviyet runtuh. Dan demokrasi liberal yang ditunggangi kapitalisme menjadi pemenang tunggal peradaban. Lantas seperti yang diungkapkan fukuyama, tugas manusia modern menjadi semakin ironis; hanya merawat dunia yang laksana museum tambo.
Benarkah demokrasi liberal dan kapitalisme adalah satu-satunya kebenaran? B
enarkah tidak akan ada perlawanan terhadap dominasi two towers ? benarkah ini sistem yang terbaik dan tidak akan mengalami krisis internalnya? Diatas gugatan itulah buku ini berdiri. Buku ini mencoba membongkar keyakinan bahwa demokrasi liberal dan kapitalisme adalah kebenaran tunggal yang tergugat. Bahwa demokrasi liberal dan neoliberalisme adalah dua sisi mata uang yang menyesatkan peradaban manusia itu hendak dibuktikan oleh karya Coen husain Pontoh ini. Karna itu prakarsa untuk membongkar dan mencari alternatifnya adalah sah dan niscaya.

Ironis demokrasi liberal

Teoritisi demokrasi ala joseph schumpeter yaitu demokrasi hanya terbatas sebagai mekanisme memilih pemimpin melalui pemilu yang kompetitif dan adil. Senada dengan itu Hutington menyatakan kualitas demokrasi diukur oleh pemilihan umum yang kompetitif, adil, jujur dan berkala serta partisipasi rakyat yang tinggi selama pemilu. Cita2 mulia demokrasi direduksi menjadi sebatas hal prosedural dan tekhnis yakni PEMILU.
Geoff mulgan dalam kritiknya terhadap demokrasi, pertama; demokrasi cendrung melahirkan oligarki dan tekhnokrasi. Apa mungkin tuntutan rakyat di akomodasi oleh orang yang menilai politik sebagai karir untuk menambang keuntungan finansial? Kedua; prinsip2 demokrasi seperti keterbukaan, kebebasan dan kompetisi telah dibajak oleh para pemilik modal. Keterbukaan berarti keterbukaan untuk pemilik modal besar, kebebasan berarti kebebasan investasi bagi perusahaan multi nasional, kompetisi berarti persaingan pasar bebas yang penuh tipu daya. Ketiga; media mereduksi partisipasi rakyat. Kelihaian media mengemas opini publik membuat moralitas politik menjadi abu-abu, juga cendrung menggantikan partisipasi rakyat yang berujung pada semakin kecilnya partisipasi langsung dan kedaulatan langsung rakyat.
Negara adalah tempat akses dan relasi ekonomi, politik, hukum berlangsung. Negara dan sistem demokrasi juga berhubungan dengan masalah bagaimana menciptakan kesejahteraan, menjalankan dan mengatur finansial sebuah negara. Karena itu negara membutuhkan sebuah persekutuan taktis dan cepat. Karena hanya model ekonomi kapitalisme yang tersedia (yang memiliki kekuatan modal besar) maka demokrasi membutuhkan kapitalisme begitu juga sebaliknya. Darisini persekutuan najis itu mulai tercipta. Di ujung jalan, tampaknya kapitalisme lah yang berkuasa. Atas nama kemajuan dan poerdagangan bebas ia mulai mengangkangi negara. Atas nama pertumbuhan ekonomi ia mulai menyiasati demokrasi lalu muncullah makhluk lama dengan baju baru: neoliberalisme.
Sebuah makhluk yang mengendap-endap muncul lalu menjalankan tak-tik silent take over (penjajahan yang terselubung). Neolib kemudian mengusung proyek besar dunia:globalisasi. Paling tidak ada dua faktor yang mendorong gagasan neoliberalisme ini dipakai, pertama; krisis besar dan resesi ekonomi terutama mengenai amerika serikat dimana mereka mengalami over produksi baik perusahaan multi nasional maupun perbankan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme pada negara-negara miskin. Kedua; model negara kesejahteraan (welfare state) mengalami kebangkrutan akibat besarnya pengeluaran yang harus dikeluarkan negara untuk jaminan sosial rakyatnya. Akhirnya kemenagan neolib adalah kemenangan bagi perusahaan multi nasional dan para corporate yang juga berarti kemenagan bagi negara maju untuk memberikan tekanan pada negara miskin agar mematuhi doktrin khas neolib: liberalisasi- privatisasi-diregulasi.

(Nasib Indonesia pun, ga jauh-jauh dari gambaran diatas. sekarang yang berlaku di Indonesia tak lebih dari Demokrasi prosedural!-- kesengsaraan yang berjubah kesejahteraan)